Kamis, 06 Januari 2011

Pola Pangan Harapan Kabupaten Kulon Progo Tahun 2010

Latar Belakang
Pangan merupakan kebutuhan manusia sehingga ketersediaan pangan bagi masyarakat harus selalu terjamin. Dalam perkembangan masyarakat untuk memenuhi kualitas hidup yang maju, mandiri, dalam suasana tenteram serta sejahtera lahir dan batin semakin dituntut penyediaan pangan yang cukup, berkualitas dan merata. Kecukupan pangan bagi suatu bangsa merupakan hal sangat srategis.
Secara konseptual penganekaragaman pangan dapat dilihat dari komponen-komponen system pangan, yaitu penganekaragaman produksi, distribusi, dan penyediaan pangan serta konsumsi pangan. Penyediaan konsumsi pangan penduduk diperlukan suatu parameter, salah satu parameter yang dapat digunakan adalah untuk menilai tingkat keanekaragaman pangan adalah Pla Pangan Harapan (PPH).

Dalam hal konsumsi pangan, permasalahan yang dihadapi tidak hanya mencakup keseimbangan komposisi, namun juga masih belum terpenuhinya kecukupan gizi. Selama ini pangan yang tersedia baru mencukupi dari segi jumlah dan belum memenuhi keseimbangan yang sesuai dengan norma gizi. Seiring dengan semangat otonomi daerah, maka kebijakan di bidang ketahanan pangan melalui pendekatan Pola Pangan Harapan dalam rangka perencanaan kebutuhan konsumsi dan penyediaan pangan yang berbasis sumber daya pangan local.

Tujuan

Tujuan Analisis Konsumsi Pangan adalah:
1. Untuk mengetahui Skor Pola Pangan Harapan di Kabupaten Kulon Progo Tahun 2010.
2. Untuk mengetahui prediksi Skor Pola Pangan Harapan di Kabupaten Kulon Progo Tahun 2010 – 2015.

Lokasi Survey

Lokasi Survey Pola Pangan Harapan Tahun 2010 meliputi:
1. Kec. Temon
2. Kec. Wates
3. Kec. Panjatan
4. Kec. Galur
5. Kec. Sentolo
6. Kec. Pengasih
7. Kec. Nanggulan
8. Kec. Samigaluh
9. Kec. Kalibawang

Pelaksanaan

Pelaksanaan survey Pola Pangan Harapan dilakukan terhadap rumah tangga 18 Desa pada 9 Kecamatan dengan jumlah 10 rumah tangga pada masing-masing Desa atau sejumlah 180 rumah tangga. Data survey meliputi menu makanan dalam 1 hari sebelum hari wawancara. Pelaksana survey adalah Penyuluh Pendamping lokasi Desa setempat. Data hasil survey kemudia diolah dengan Software Analisis Konsumsi Pangan.

Analisis Konsumsi Pangan

Pola Konsumsi Pangan dan Tingkat Kecukupan Gizi Penduduk

Konsumsi energi penduduk di Kabupaten Kulon Progo Tahun 2010 sebesar 1.992,2 KKal/Kapita/Hari atau 99,6% masih berada di bawah angka standart Kecukupan Energi sebesar 2.000 KKal/Kapita/Hari. Namun demikian untuk wilayah pertanian tingkat Konsumsi Energi mencapai 2.119,5 KKal/Kapita/Hari, sedangkan wilayah perikanan dan wilayah lainnya masing-masing 1.688,9 KKal/Kapita/Hari dan 1.700,7 KKal/Kapita/Hari berada di bawah standart Kecukupan Energi sebesar 2.000 KKal/Kapita/Hari.

Tingkat Kecukupan Energy untuk jenis pangan tertentu di atas standart antara lain: pangan hewani 273,3 KKal/Kapita/Hari di atas standart 240,0 KKal/Kaita/Hari atau 113,9%. Demikian juga untuk pangan buah/biji berminyak dan kacang-kacangan masing masing Tingkat Kecukupan Energi sebesar 113,4% dan 343,1%. 

Disisi lain untuk jenis pangan minyak/lemak, gula dan lain-lain angka Tingkat Kecukupan Energi masing-masing sebesar 22,4%, 45,0% dan 67,5%. Data tersebut di atas menunjukkan bahwa pola konsumsi penduduk belum berimbang, yaitu kelebihan energy untuk jenis pangan hewani, buah/biji berminyak dan kacang-kacangan dan kekurangan energy untuk jenis pangan minyak/lemak, gula dan lainnya. Pola konsumsi tersebut disebabkan adanya persepsi penduduk bahwa makan harus dengan lauk pauk dalam tanda petik “daging, telur atau ikan”, sehingga perlu diberikan pengertian bahwa lauk pauk dapat berasal dari bahan nabati. Dengan demikian pola konsumsi pangan dapat dilaksanakan secara beragam, berimbang, dan bergizi serta aman atau B3A.

Pola Pangan Harapan Menurut Agroekologi dan Ekonomi
Skor Pola Pangan Harapan di Kabupaten Kulon Progo tahun 2010 mencapai 91,9 dari angka 100, dimana untuk jenis pangan hewani dan buah/biji berminyak dan kacang-kacangan telah mencapai angka maksimal masing-masing 24, 1, dan 10. Sedangkan jenis makanan padi-padian mencapai skor PPH mencapai 24,4 dari angka 25 hampir mendekati ketentuan yang disarankan, demikian pula jenis makanan umbi-umbian mencapai angka 2,2 dari 2,5.

Namun demikian untuk jenis makanan minyak dan lemak, gula dan sayur-sayuran nilai skor PPH relative rendah masing-masing 1,1 dari 5,0 untuk minyak dan lemak, 1,1 dari 2,5 untuk gula dan 28 dari 30 untuk sayur-sayuran. Berdasarkan data di atas pola konsumsi untuk jenis makanan pangan hewani, buah/biji berminyak dan kacang-kacangan untuk dikurangi sehingga tidak melebihi batas maksimal, sedangkan pola konsumsi untuk jenis makanan padi-padian, minyak dan lemak, gula dan sayur-sayuran untuk ditambah sehingga mencapai batas maksimal yang ditentukan.

Meskipun skor Pola Pangan Harapan di Kabupaten Kulon Progo tahun 2010 mencapai 91,9 dari angka 100, tetapi persebarannya menurut agroekologi belum merata antara wilayah pertanian (Skor PPH 93,9), wilayah perikanan (Skor PPH 76,7), dan wilayah lainnya (Skor PPH 65,6). Demikian pula apabila dilihat persebarannya berdasarkan kondisi ekonomi wilayah sedang skor PPH mencapai 93,9 dan wilayah tertinggal sebesar 72,6. Korelasi data skor PPH menurut agroekologi dan ekonomi menunjukkan bahwa wilayah pertanian dikategrikan wilayah maju, wilayah perikanan dikategorikan wilayah sedang, dan wilayah lainnya dikategorikan wilayah tertinggal.

Kesimpulan dan Saran

Skor Pola Pangan Harapan di Kabupaten Kulon Progo tahun 2010 rata-rata 91,9 dari angka 100 dengan rincian berdasarkan agroekologi wilayah pertanian (Skor PPH 93,9), wilayah perikanan (Skor PPH 76,7), dan wilayah lainnya (Skor PPH 65,6). SEdangkan apabila dilihat persebarannya berdasarkan kondisi ekonomi wilayah sedang skor PPH mencapai 93,9 dan wilayah tertinggal sebesar 72,6. Korelasi data skor PPH menurut agroekologi dan ekonomi menunjukkan bahwa wilayah pertanian dikategrikan wilayah maju, wilayah perikanan dikategorikan wilayah sedang, dan wilayah lainnya dikategorikan wilayah tertinggal.

Saran

Perlu sosialisasi pola konsumsi pangan berimbang, bergizi, beragam dan aman atau dikenal B3A terutama bagi penduduk wilayah perikanan dan wilayah lainnya.

1 komentar:

  1. Sayangnya usaha pemerintah atau berupa bantuan masih banyak yang salah sasaran , contohnya raskin . masyarakat yang kategori menengah kebawah makin jauh dari yg namanya gizi .( perut gak bunyi aja sudah sangat bersukur )
    jogjahot.com
    Situs Iklan Gratis Jogja Hot COD & Barang Second Murah . Area Wates, KulonProgo, Sleman, Bantul, Gunung Kidul .

    BalasHapus