Senin, 10 Januari 2011

Sistem Kerja Latihan dan Kunjungan (LAKU)

Oleh : Supriyanto, SE, SPt.

PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

Salah satu pendekatan pembangunan dilakukan dengan meningkatkan kualitas sumber daya manusia sebagai pelaku utama pembangunan pertanian perikanan dan kehutanan yaitu : petani, pekebun, peternak, nelayan, pembudi daya ikan, pengolah ikan, dan masyarakat didalam dan di sekitar kawasan hutan beserta keluarga intinya. Peningkatan kualitas sumber daya manusia tersebut diupayakan antara lain melalui penyuluhan .

Pendekatan penyuluhan dengan cara memberikan pelayanan, nasehat dan pemecahan masalah pelaku utama dan pelaku usaha , dipandang perlu sistem kerja LAKU ditetapkan kembali dengan modifikasi sesuai kondisi dan kebijaksanaan yang ada. Beberapa aspek positif sistim kerja LAKU diantaranya yaitu ; 1 ) penyuluh mempunyai rencana kerja dalam setahun, 2) penyuluh mengunjungi pelaku utama dan pelaku usaha secara teratur, terarah dan berkelanjutan, 3) penyuluhan dilaksanakan melalui pendekatan kelompok, 4) penyuluh cepat mengetahui masalah yang ada ditingkat pelaku utama dan pelaku usaha dan cepat memecahkannya, 5) penyuluh secara teratur mendapat tambahan pengetahuan / kecakapan, sikap dan keterampilan, dan 6) penyelenggaraan penyuluhan mendapatkan supervisi dan pengawasan yang teratur.

Penerapan sistim kerja LAKU diharapkan dapat meningkatkan motivasi penyuluh dalam melaksanakan fungsinya sebagai pendamping dan pembimbing pelaku utama dan pelaku usaha ,serta menggairahkan pelaku utama dan pelaku usaha dalam melaksanakan kegiatan usaha yang lebih baik, sehingga dapat meningkatkan produktivitas dan pendapatannya.


2. Prinsip- Prinsip Dasar

Penyuluhan dengan penggunaan system kerja LAKU didasarkan pada prinsip Trilogi (tiga prinsip dasar) penyuluhan , yaitu :
  1. Terjalinnya hubungan yang akrab antara penyuluh dengan pelaku utama dan pelaku usaha
  2. Materi penyuluhan yang diberikan actual, factual dan dibutuhkan oleh pelaku utama dan pelaku usaha 
  3. Meningkatnya pengetahuan, sikap dan keterampilan penyuluh maupun pelaku utama dan pelaku usaha
PENYELENGGARAAN SISTIM KERJA LAKU

Dalam sistim kerja LAKU, latihan bagi penyuluh diselenggarakan di BPP atau ditempat lain dengan jadwal sekali dalam dua minggu. Latihan tersebut diselenggarakan sacara teratur, terarah dan berkelanjutan. Proses latihan (belajar-mengajar) difasilitasi oleh penyuluh yang menguasai materi, maupun tenaga dari lembaga lainnya.

1. Aspek Positif Sistim Kerja Laku;
  • Penyuluh mempunyai rencana kerja dalam setahun,
  • Penyuluh mengunjungi pelaku utama dan pelaku usaha secara teratur, terarah dan berkelanjutan, Penyuluhan dilaksanakan melalui pendekatan kelompok,
  • Penyuluh cepat mengetahui masalah yang ada ditingkat pelaku utama dan pelaku usaha dan cepat memecahkannya,
  • Penyuluh secara teratur mendapat tambahan pengetahuan / kecakapan, sikap dan keterampilan, 
  • Penyelenggaraan penyuluhan mendapatkan supervisi dan pengawasan yang teratur.
2. Prinsip Dasar Penyuluhan :
  • Terjalin hubungan akrab antara penyuluh dan pelaku utama / pelaku usaha
  • Materi penyuluhan yang diberikan actual, factual dan dibutuhkan oleh pelaku utama dan pelaku usaha 
  • Meningkatnya PSK penyuluh maupun pelaku utama dan pelaku usaha
3. Tujuan Sistem Kerja Laku
  • Mengusahakan terjalinnya hubungan yang akrab antara pelaku utama dan pelaku usaha dengan penyuluh dalam mengakses informasi, teknologi, pasar, modal dan sumber daya lainnya.
  • Memperkuat dan meningkatkan kinerja penyuluh sebagai penghubung antara pelaku utama dan perlaku usaha dengan sumber informasi, teknologi, pasar, modal dan sumber daya lainnya,
  • Memperkuat dan meningkatkan hubungan yang baik antara pelaku utama dan pelaku usaha dengaan sumber informasi dan teknologi sehingga terjadi sinergitas dalam mengembangkan inovasi
4. Penyelanggaraan Pelatihan Bertujuan:
  • Diperolehnya berbagai informasi yang berkaitan dengan pembangunan pertanian perikanan dan kehutanan
  • Meningkatkan PSK penyuluh , baik teori / praktek
  • Meningkatkan kemampuan menganalisis dan memecahkan permasalahan yang dihadapi di tingkat lapangan.
  • Meningkatkan kemampuan penyuluh dalam menyusun perencanaan dan melaksanakan penyuluhan .
5. Prinsip-Prinsip Pelatihan
  • Teratur, terarah dan berkelanjutan
  • Topik pelatihan harus actual, factual dan dibutuhkan oleh pelaku utama dan pelaku usaha
  • Pembahasan materi harus mendalam.
  • Latihan mencakup teori dan praktek
  • Latihan harus mampu memecahkan permasalahan teknis di lapangan yang sedang dihadapi pelaku utama dan pelaku usaha
  • Pelatih / pengajar harus mengasai materi dan metode yang digunakan
  • Pelatihan menggunakan metode partisipatif.
  • Pelatihan dilaksanakan sesuai jadwal.
6. Sasaran Pelatihan
  • Meningkatnya pengetahuan dan keterampilan
  • Teori yang diberikan sesuai deengan keadaan lapangan dan masalah-masalah utama daerah.
  • Praktek dapat dilaksanakan di lapangan dan di dalam kelas.
  • Materi praktik penyuluhan diarahkan agar peserta latihan dapat berpatisipatif aktif,
  • berbentuk simulasi, cara-cara berbicara, cara mengajar, teknis diskusi kelompok, membuat alat peraga dan sebagainya.
  • Meningkatnya kemampuan dalam menganalisis dan memecahkan permasalahan yang dihadapi di tingkat lapangan
  • Masalah teknis, social , ekonomi pelaku utama dan pelaku usaha
  • Kelancaran tugas sehari-hari.
  • Meningkatnya kemampuan penyuluh menyusun rencana dan melaksanakan penyuluhan 
  • Membahas kegiatan 2 minggu yang akan datang mengacu kepada rencana kerja penyuluhan . 
7. Materi Pelatihan
  • Berisi program-program pembangunan yang sedang dan akan dikembangkan untuk daerah yang bersangkutan
  • Bersifat membantu para penyuluh dalam memecahhkan permasalahan yang dihadapi di lapangan.
  • Dilengkapi dengan syilabus, kurikulum (termasuk tujuan instruksionil khusus)
8. Proses Pelatihan Di Balai Penyuluhan
  • Diskusi umum antara penyuluh dengan petugas instansi terkait membahas masalah lapangan.
  • Fasilitator menyampaikan materi yang relevan dengan kebutuhan penyuluh.
  • Praktek dapat dilakukan di luar maupun di dalam ruangan.
  • Tinjauan pelaksanaan program yang dilakksanakan 2 minggu yang lalu.
  • Laporan kemajuan yang dicapainya
  • Mengajukan perrmasalahan untuk dipecahkan bersama-sama.
  • Merencanakan program kerja untuk masa 2 minggu yang akan datang.
9. Tujuan Kunjungan Kerja
  • Menyampaikan informasi dan teknologi baru kepada pelaku utama dan pelaku usaha
  • Membimbing penerapan teknologi usahatani
  • Memfasilitasi proses belajar-mengajar pelaku utama dan pelaku usaha
  • Mendampingi dalam penyusunan RDK & RDKK
  • Pemeriksaan lapangan bersama untuk mengetahui permasalahannya
  • Membantu pemecahan masalah teknis , non teknis pelaku utama dan usaha 
  • Menampung permasalahan yang tidak dapat dipecahkan & dibawa ke BPP
10. Prinsip-Prinsip Kunjungan
  • Teratur, terarah dan berkelanjutan
  • unjungan melalui pendekatan kelompok
  • Pertemuan dapat dilakukan di saung petani, rumah ketua kelompok, atau tempat lain yang telah disepakati oleh anggota kelompok.
  • Pertemuan dipimpin oleh ketua kelompok, penyuluh sebagai fasilitator.
  • Pertemuan untuk memecahkan permasalahan usaha yang dihadapi para pelaku utama dan pelaku usaha 
  • Materi disesuaikan dengan keadaan usaha pelaku utama dan pelaku usaha 
11. Penetapan Waktu Penyuluhan Tergantung Dari :
  • Metode penyuluhan yang digunakan 
  • Media penyuluhan yang digunakan
  • Materi penyuluhan yang akan disampaikan
  • Keadaan atau kesempatan penyuluh itu sendiri
  • Keadaan atau situasi sasaran yang dituju
  • Jenis kegiatan usahatani setempat
  • Ketersediaan alat dan perlengkapan ( transport, komunikasi, alat peraga)
  • Kegiatan penyuluhan bisa dilakukan mengikuti kegiatan masyarakat setempat. ( bulanan, pengajian, musyawarah desa )
12. Materi Kunjungan
  • Disesuaikan dengan permasalahan di lapangan, dan dibahas bersama-sama.
  • Bersifat meningkatkan pengetahuan,keterampilan pelaku utama & pelaku usaha
  • Mencakup perencanaan materi 2 minggu akan datang. 
KEUNTUNGAN DAN KESULITAN PELAKSANAAN SISTEM LAKU

1. Keuntungan Sistem Laku:
  • Penyuluh lebih banyak di lapangan dan selalu berinteraksi dengan cara mengunjungi petani dilahan usahataninya.
  • Peningkatan disiplin kerja dan efektifitas kegiatan
  • Penyuluh memiliki informasi dan teknologi mutakhir yang dibutuhkan pelaku utama dan pelaku usaha 
  • Penyuluh lapangan menerima pengawasan teknis yang teratur
  • Tersedia dukungan logistik bagi kegiatan penyuluhan (transportasi, ruangan kerja, dan peralatan audio visual).
2. Kesulitan Pelaksanaan Sistem Laku:
  • Tidak semua pelaku yang terlibat dalam sistem LAKU bekerja untuk kebutuhan sasaran penyuluhan , peneliti lebih tertarik dengan penelitian non aplikatif.
  • Publikasi hasil penelitian cenderung pada promosi, bukan ilmu terapan yang dibutuhkan 
  • Penyuluh dianggap rendah karena bekerjasama dengan pelaku utama dan pelaku usaha.
  • Penyusunan program cenderung dikendalikan oleh pusat.
  • Cenderung top down dalam proses pelaksanaannya
  • Kesulitan bagi daerah yang agroekologis dan sosioekonominya beragam 
  • Tidak efektif untuk daerah terpencil.
  • Perlu biaya cukup tinggi untuk transportasi dan pelatihan yang teratur.
  • Asumsi pelaku utama dan pelaku usaha bersedia menjadi agen penyuluhan secara cuma-cuma tidak sepenuhnya bisa 
SUPERVISI, MONITORING, DAN EVALUASI

Materi supervise, monitoring dan evaluasi kegiatan penyuluhan meliputi
  1. Rencana kerja penyuluh ditingkat kecamatan dan desa.
  2. Rencana kerja penyelenggara pelatihan 
  3. Materi pelatihan yang diberikan oleh penyelenggara
  4. Kesesuaian jadwal pelaksanaan dan materi pelatihan yang telah direncanakan.

2 komentar:

  1. mohon dilengkapi dasar hukum/pustaka sehingga punya kekuatan hukum untuk dpt dilaksanakan di lapangan (adang k-nanggulan)

    BalasHapus
  2. terimakasih masukannya nanti akan saya sampaikan ke fungsional kabupaten

    BalasHapus